MAKALAH HADIST SHAHIH

HADIS SHAHIH

 BAB I

PENDAHULUAN

Hadits mutawatir memberikan faedah “yaqin bi’-qath’i” (positif–positifnya), bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar bersabda, berbuat atau menyatakan iqrar (persetujuan)nya di hadapan para sahabat, berdasarkan sumber-sumber yang banyak sekali, yang mustahil mereka sama-sama mengadakan kesepakatan untuk berdusta. Oleh karena sumber-sumbernya sudah menyakinkan akan kebenarannya, maka tidak perlu diperiksa dan diselidiki dengan mendalam. Berlainan dengan hadits ahad, yang memberikan faedah “dhanny” (prasangka yang kuat akan kebenarannya), mengharuskan kepada kita untuk mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan yang seksama, di samping keharusan mengadakan penyelidikan mengenai segi-segi lain, agar hadits ahad tersebut dapat diterima sebagai hujjah atau ditolak, bila ternyata terdapat cacat-cacat yang menyebabkan penolakan. Dari segi ini, hadits ahad terbagi menjadi tiga bagian, yaitu hadits shahih, hasan, dan dha’if. Jadi makalah ini mencoba membahas sedikit nya lebih lanjut  tentang hadits shahih.

BAB II

PEMBAHASAN

1.      Pengertian Hadits Shahih

Shahih menurut bahasa berarti “sehat”, sedang menurut istilah ialah hadits yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tidak syadz dan tidak pula terdapat billat (cacat) yang merusak.[1]

2.      Syarat-syarat Hadits Shahih

Para ahli hadits seperti Ibnu Ash-Shalah (w.643/1245), An-Nawawi, (w.676/1277), Ibnu Katsir (w.774), Ibnu Hajar Al-ASqalani (w. 852/1449), Jalal Ad-Din AS-Suyuthi (w. 911/1505) dan lain-lain telah mengajukan definisi yang mereka ajukan mewakili apa yang (diduga) telah diterapkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Definisinya dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) kesinambungan periwayatan, (b) rawi-rawinya adil, (c) rawi-rawinya sempurna kedhabitannya, (d) isnad dan matan harus bebas dari kejagalan (syadzdz), (e) isnad dan matan harus bebas dari cacat (‘Illah). Semua syarat ini akan diuraikan secara kritis berikut ini.

a.       Kesinambungan periwayatan

Bahwa kesinambungan jalur periwayatan berarti semua perawi dalam jalur periwayatan dari awal (mukharijj) sampai akhir (sahabat) telah meriwayatkan hadits dengan cara yang dapat dipercaya enurut konsep tahammul wa ada’ al hadits. Maksudnya, setiap perawai dalam jalur periwayatan telah meriwayatkan hadits tertentu langsung dari perawi sebelumnya dan semua perawi adalah tsiqah, yakni ‘adl (adil) dan dhabith (kuat ingatan). [2]

b.      Rawi-rawinya adil

Adil adalah perangai yang senantiasa menunjukkan pribadi yang yaqwa dan muru’ah (menjauhkan diri dari sifat atau tingkah laku yang tidak pantas untuk dilakukan). Yang dimaksud adil disini ialah adil dalam hal meriwayatkan hadits, yaitu orang Islam yang miskallah (cakap bertindak hokum) yang selamat dari fasiq, gila dan orang yang tidak pernah dikenal, tidak termasuk orang yang adil, sedangkan orang perempuan budak, dan anak yang sudah baligh bias digolongkan orang yang adil apabila memenuhi kriteria tersebut.

c.       Rawi-rawinya sempurna kedhabitannya

Yang dimaksud sempurna kedhabitannya ialah kedhabitan pada tingkat yang tinggi, artinya bahwa ingatannya lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya lebih banyak daripada kesalahannya. Kalau seseorang mempunyai ingatan yang kuat, sejak dari menerima sampai kepada menyampaikannya kepada orang lain dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan dan dimana saja dikehendaki, disebut orang yang dhabithu’sh-shdri.

Dalam hal ini dhabit ada dua macam, yaitu:

1)      Dhabit hati. Seseorang dikatakan dhabit hati apabila dia mampu menghafal setiap hadits yang didengarnya dan sewaktu –waktu dia bisa mengutarakan atau menyampaikannya.

2)      Dhabitkitab. Seseorang dikatakan dhabit kitab apabila setiap hadits yang dia riwayatkan tertulis dalam kitabnya yang sudah ditashih (dicek kebenarannya) dan selalu dijaga.[3]

d.      Bebas dari Syadzudz

Syadzudz disini ialah hadits yang diriwayatkan oleh seseorang rawi yang terpercaya, itu tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang tingkat dipercayanya lebih tinggi.

            Dalam karangan Dr. Phil Komaruddin Ain, MA, hadits syadzudz, menurut Asy-Syafi’i adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, tetapi bertentangan dengan hadits riwayat orang-orang yang dianggap lebih dapat dipercaya darinya. Sebuah hadits diriwayatkan hanya oleh satu perawi yang dipercaya dan tidak didukung oleh perawi-perawi yang lain, tidak dapat dianggap hadits syadzdz. Dengan kata lain, “perawi tunggal” (faid mthlaq) tidak mempengaruhi keterpercayaan hadits sepanjang hadits tersebut diriwayatkan oleh perawi yang dapat dipercaya.

e.       Bebas dari ‘illat

Hadits ma’lul atau cacat adalah hadits yang tampak shahih pada pandangan pertama, tetapi ketika dipelajari secara seksama dan hati-hati ditemukan faktor-faktor yang dapat membatalkan keshahihannya. Faktor tersebut misalnya, seorang perawi meriwayatkan sebuah hadits dari seseorang guru, padahal kenyataannya ia tidak pernah bertemu dengannya, atau menyadarkan sebuah hadits kepada sahabat tertentu, padahal sebenarnya berasal dari shabat lain.[4] ‘Illat disini ialah cacat yang samar yang mengakibatkan hadits tersebut tidak dapat diterima.

3.      Hukum-hukum Hadits Shahih

Adapun hukum-hukum hadits shahih adalah sebagai beirkut:

a.       Berakibat kepastian hukum. Hal ini apabila hadits tersebut terdapat pada shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pendapat yang dipilih dan dibenarkan oleh Ibnu Al-Shalah.

b.      Imperatif diamalkan. Menurut Ibnu Hajar dalam kitab syarah Al-Nuhbah, wajib mengamalkan setiap hadits yang shahih, meskipun hadits dimaksud tidak termasuk yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

c.       Imperatif untuk menerimanya. Menurut Al-Qasim dalam kitab qawa’idu Al-Thadits, bahwa wajib menerima hadits shahih walaupun hadits shahih itu tidak pernah diamalkan oleh seorang pun.

d.      Imperatif segera diamalkan tanpa menunggu sampai adanya dalil yang bertentangan. Menurut Syekh Al-Fallani di dalam kitab Liqaadzu Al-Himami, bahwa mengamalkan hadits dhahih tidak usah menunggu mengetahui tidak adanya snasikh (hadits lain yang menganulir), atau tidak adanya ijma’ atau dalil-dalil lain yang bertentangan dengan hadits itu. Akan tetapi, harus segera diamalkan sampai benar-benar diketahui adanya dalil-dalil yang bertentangan dengannya dan kalau toh ada maka harus diadakan penelitian terlebih dahulu.

e.       Hadits shahih tidak membahaykan. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Ighaatsatu Al-Lahfan, bahwa hadits shahih walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja, tidak membahayakan, yakni tidak mengurangi kadar keshahihannya

f.       Tidak harus diriwayatkan oleh orang  banyak. Hadis yang shahih tidak pasti diriwayatkan oleh orang banyak, sebagai dasarnya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Muadz yang berbunyi sebagai berikut:

مَا مِنْ اََدٍ يَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ اِلاَّ حَرَّمَهُ

الله ُ عَلَ النَّارِ فَقَالَ مُعَاذُ: يَارُسُوْلُ اللهِ اَفَلاَ أُخْبِرُبِهِ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ صلعم اِذَا يَتَكَّلُوا فَأَخْبَرَ هُمْ مُعَاذُ عِنْدَ مَوْتِهِ

“Tidak seorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali Allah mengharamkanya masuk neraka. Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya hadis ini aku beritahukan kepada orang-orang supaya mereka bergembira?” Nabi saw menjawab,” Hadis tersebut baru di ceritakan kepada orang-orang oleh Mu’adz menjelang wafatnya karena takut berdosa jika tidak mengamalkannya.

Imam Bukhari meriwayatkan secara ta’liq dari sahabat Ali ra:

حَدِ النَّاسَ بِمَا يَغْرِفُونَ اَتَحَبُّوَ اَنْ يُكَذَّبَ الله ُ وَرَسُولُهُ

“Ceritakanlah (hadis) kepada orang-orang sesuai dengan pengetahuannya, apakah kalian senang, Allah dan RasulNya didustakan?”

Ibnu Mas’ud juga berkata :

مَااَنْتَ مُحَدِّثٌ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تِبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ اِلاَّ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ

 (رواه مسلم)

“Engkau tidak boleh menceritakan kepada suatu kaum sesuatu hadis yang tidak terjangkau oleh akal mereka, melainkan hanya akan menimbulkan fitnah di antara mereka,” (HR.Muslim).

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, di antara ulama yang tidak suka menceritakan hadis secara sepotong-sepotong dengan maksud-maksud tertentu, di antaranya untuk menghindari kewajiban-kewajiban atau menghilangkan hokum-hukum, tindakannya itu akan menimbulkan kerusakan dunia dan akhirat. Bagaimana mereka sampai bida berbuat demikian, padahal semestinya semakin giat pula ibadahnya. Seperti halnya ketika Nabi saw ditanya, “Mengapa engkau selalu Qiyaamu Al-Lail padahal Allah SWT telah memaafkan engkau? Kontan Nabi saw menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

4.      Pembagian dan Tingkatan-tingkatan Hadis Shahih

Derajat hadis shahih itu bertingkat-tingkat sebab bertingkat-tingkat sifat adil, dhabit, dan sifat-sifat lain yang menjadi syarat-syarat keshahihanya. Apabila rawi-rawi hadis shahih itu mempunyai sifat dhabit, adil, dan sifat-sifat lain yang menjadi sifat keshahihannya tinggi, maka hadis itu lebih shahih tingkatannya. Itulah sebabnya ulama Syakh Abdullah bin Ibrahim Al-Alawi menghimpun tinngkatan-tingkatan hadis shahih didalam nadham kitab nya yang berjudul Thal’afu Al-Anwar, sebagai berikut:

اَعْلَى الصَّحِيْحِ مَاعَلَيْهِ اِتِّفَاقَا               فَمَا رَوَى الجُعْفِيُّ فَرْدًا يُنْتَقَى

فَمُسْلِمٌ كَذَا لِكَ فِى الشَّرْطِ عُرِف          فَمَالِشَرْطِ غَيْرِذَيْبِ يَكْتَنِفَ

“Setinggi-tinggi hadis shahih ialah yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim, lalu yang bersih diriwayatkan oleh Al-Ju’fi (Al-Bukhari) seorang diri, kemudian yang diriwayatkan oleh Muslimdalm syarat yang diketahui adalah sepeerti itu, selanjutnya yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini dengan melingkupi syarat-syarat selain dari syarat-syarat keduanya.

Maksud dari ungkapan dalm nadham itu ialah:

  • Hadis shahih yang paling tinggi derajatnya ialah yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim, yaitu menempati tingkatan hadis shahih yang pertama.
  • Kemudian hadis shahih yang diriwayatkan oleh Al-Ju’fi (Al-Bukhari) saja menempati tingkatan hadis shahih yang kedua.
  • Dan hadis shahih yang diriwayatkan oleh Muslim saja menempati tingkatan hadis shahih yang ketiga.
  • Lalu hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Al-Bukhari dan Muslim, menempati tingkatan hadis shahih yang keempat.
  • Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Al-Bukhari, menempati tingkatan hadis shahih yang kelima.

Kekuatan hadis shahih itu, berlebih kurang mengingatberlebih kurangnya sifat kedhabitan dan keadilan rawinya. Hadis shahih yang paling tinggi derajatnya, ialah hadis yang bersanad ashahhu’asanid.[5] Kemudian berurut-turut sebagai berikut:

a.            Hadis yang disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Muslim, yang lazim disebut dengan istilah “Muttafaqun ‘alahi”.

b.            Hadis yang dishahihkan oleh Al-Bukhari saja.

c.            Hadis yang dishahihkan oleh Muslim saja.

d.            Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari danMuslim, tetapi mengikuti syarat-syarat shahih Al-Bukhari dan Muslim.

i.      Imam Al-Nawawi menagatakan, bahwa yang di maksud mengikuti syarat-syarat shahih Al-Buhari dan Muslim,karena Al-Buhari dan Muslim sendiri tidak menyebutkan dengan jelas tentang syarat-syarat shahihnya, baik dalam kedua kitab shahihnya maupun dalm kitabnya yang lain, (maka rawi-rawi yang terdapat di dalam kedua kiatab shaih itu menjadi standar).

e.            Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim, tetapi mengikuti syarat-syarat keshahihan Al-Bukhari.

f.             Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim, tetapi mengikuti syarat-syarat keshahihan Muslim.

g.            Hadis shahih yang diriwayatkan oleh ahli hadis yang terkenal selain Al-Bukhari dan Muslim, tetapi tidak mengikuti syarat-syarat keshahihan Al-Bukhari dan Muslim dan tidak pula mengikuti syarat-syarat keshahihan salah satu dari Al-Bukhari dan Muslim.

  • Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Muslim, menempati tingkatan hadis shahih yang keenam.
  • Selanjutnya hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti selain dari  syarat-syarat keduanya, menempati tingkatan hadis shahih yang ketujuh.[6]

BAB III

PENUTUPAN

1.      Simpulan

Pembahasan makalah ini, hadis shahih menjelaskan hadis yang sesuai dengan syarat-syarat yang sudah di tentukan, berbagai hukum-hukum hadis shahih menimbulkan ketertiban dalam menanganinya, adanya pembagian dan tingkatan-tingkatan hadis shahih dapat membantu mengetahui kekuatan dan  yang kelemahan dalam hadis tersebut.

2.      Kata Penutup

Demikianlah makalah yang sangat sederhana ini, penulis berharap semoga bermanfaat bagi kita. Saran dan kritik kami harapkan demi perbaikan selanjutnya, tak lupa di ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Amin Kamaruddin Phil.Dr. M.A, Metodologi Para Ahli Hadis Klasik, PT. Mizan Publika, Jakarta, 2009.

Fatchur Rahman.Drs, Mushthalahul hadits, PT. Alma’arif –Penerbit-Percetakan Offset, Yogyakarta, 1970.

Muhammad Alawi Al-Maliki. Prof. Dr, Ilmu Ushul Hadis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009.


[1] Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis,hal.52

[2] Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A, Metodologi Para Ahli Hadis Klasik, Hal.21

[3] Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, hal.53

[4] Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A, Metodologi Para Ahli Hadis Klasik, Hal.34

[5] Drs.Fatchur Rahman, Mushthalahul hadits, hal.102

[6] Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, hal.59

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s