PENDIDIKAN BERKEMAJUAN DAN SIKAP KETIDAKPERCAYAAN

1920468_840502756022251_7863113031294550094_nSeberapa jauh mimpi kita tentang pendidikan berkemajuan ini akan tercapai ? kalau kita ditanya apakah kehidupan kita semakin maju? Jawabanya mungkin maju mungkin tidak,  dilihat dari mana dan oleh siapa, karena maju menurut pemerintah belum tentu maju menurut rakyat, maju menurut pedagang belum tentu maju menurut petani, dan seterusnya, semua mempunyai cara yang berbeda dalam melihat dan memahaminya. Kalau dilihat dari pemakaian teknologi yang semakin menyebar dan meluas, sepertinya kehidupan kita ini semakin maju. Faktanya anak –anak usia dini sudah akrab dengan teknologi komunikasi dan informatika. Anak kecil sudah banyak yang pegang android dan bermain game didalamnya.

              Kalau melihat penggunaan tekhnologi yang telah berkembang rasanya janggal ketika ketika kita sebut dunia kita belum maju, akan tetapi aneh juga ketika dunia kita sudah maju seharusnya cara hidup kita juga kian maju, lebih mudah, murah dan ramah, termasuk semakin mudah membangun rasa saling pengertian dan rasa saling percaya. Praktiknya semakin susah membangun kehidupan yang diwarnai rasa saling pengertian, susah untuk saling percaya, bahkan mudah kita menjumpai orang salah paham, sebaliknya mereka mudah menyebarkan faham yang salah. Menggunakan teknologi yang ada untuk menyebarkan informasi yang belum tentu benar, black campaign yang menyesatkan pun mudah tersebar. Yang membuat prihatin adalah ketika banyak kebijakan publik yang dibangun berangkat dari rasa tidak percaya.

Pendidikan kita semakin maju dengan berkembangnya teknologi, tetapi itu semua tidak dibarengi dengan sikap saling percaya antara satu pihak dengan pihak yang lainya. Sebagai contoh Ujian Nasional merupakan sebuah agenda rutin setiap tahun yang diadakan pemerintah sebagai parameter kompetensi pelajar di seluruh Indonesia. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apa alasan pemerintah menyusun soal ujian nasional  dengan sepuluh paket? Kenapa tidak satu paket saja?  Jawabanya jelas, karena pemerintah tidak percaya tidak percaya terhadap anak didiknya sendiri. Pemerintah berburuksangka bahwa peserta ujian akan mencontek dan jika hanya satu paket maka akan mudah untuk mencontek. Sementara itu yang membuat soal ujian sendiri tidak bisa dipercaya, oleh karena itu panitia ujian nasional terpaksa mengerahkan polisi untuk mengawal penyusunan naskah ujian. Pun begitu dengan yang mencetak soal , mereka harus dijaga polisi. Yang mendistribusikan soal juga tidak bisa dipercaya mereka pasti dikawal oleh polisi. Yang mengerjakan soal, yang memindai jawaban soal, yang mengkonversi nilai, semua tidak bisa dipercaya, dan mereka harus diawasi dan dijaga secara berlapis lapis. Pertanyaanya kenapa ujian nasional yang dijaga dan diawasi secara berlapis-lapis masih tetap bocor?

           Ternyata kita punya negeri dibangun atas dasar rasa tidak percaya. Kehidupan dan pendidikan ini tampak lebih maju padahal sebaliknya, bagaimana bisa dikatakan lebih maju kalau kecurigaan terhadap orang lain semakin besar. Seharusnya semakin maju maka rasa percaya kepada orang lain semakin tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: